UJIAN KEPEMIMPINAN SBY

Rekomendasi tim 8 adalah ujian bagi kepemimpinan SBY di masa awal kekuasaannya yang kedua. Jika ujian ini mampu dilewati dengan baik maka kepercayaan rakyat akan meningkat dan memudahkan jalannya pemerintahan ke depan. Sebaliknya jika ujian ini tidak bisa dilalui dengan lancar, rakyat akan kehilangan kepercayaan. Bahkan mungkin akan menjadi embrio bagi lahirnya people power.
Ujian Penegakan Hukum
Salah satu rekomendasi tim 8 adalah penghentian kasus Bibit-Chandra dengan cara pengeluaran Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) dari kepolisian atau kejaksaan melakukan depoonering. Kasus ini sebenarnya ini hanya salah satu puncak gunung es dari masalah penegakan hukum di Indonesia. Supremasi hukum di negara ini masih jauh dari rasa keadilan.
Ironi penegakan hukum sangat jelas di mata publik. Ada ibu rumah tangga yang mengeluhkan pelayanan rumah sakit internasional kepada teman-temannya melalui surat elektronik (e-mail) ditahan dan diajukan ke pengadilan. Ada seorang bapak yang mencharge handphone miliknya di fasilitas umum apartemennya sendiri diperkarakan dengan tuduhan pencurian listrik. Sementara, ada orang yang telah dengan jelas berusaha melakukan penyuapan dan pengaturan perkara hukum tidak dijadikan tersangka. Polisi beralasan tidak cukup bukti. Sungguh ironis.
“Semua orang memiliki kedudukan yang sama di mata hukum” hanya akan menjadi jargon dan hafalan di ruang kelas mahasiswa fakultas hukum. Implementasinya belum berjalan. Hukum akan menjadi bisu dan lumpuh ketika berhadapan dengan penguasa dan pengusaha. Oknum aparat penegak hukum sendiri seperti robot yang kebal jika terkena bom penyalahgunaan wewenang dan pelanggaran sumpah jabatan untuk kepentingan pribadi.
Salah satu kasus yang sedikit banyak terkait juga dengan rekomendasi tim 8 adalah kasus Bank Century. Kasus ini bisa digolongkan sebagai mega skandal atau disetarakan dengan kasus BLBI karena berkaitan dengan dana sebesar 6,7 Trilyun rupiah. Upaya penyelesaian kasus ini secara komprehensif juga merupakan ujian berat bagi SBY. Kasus ini awalnya adalah murni masalah hukum. Namun, perkembangan saat ini menyeret ke masalah politik.
Pengguliran hak angket Bank Century di DPR menjadikan kasus ini masuk ke ranah politik. Belum lagi adanya dugaan keterlibatan Menteri Keuangan Sri Mulyani salah satu orang kepercayaan SBY dan Wakil Presiden Boediono yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia. Jika dibiarkan berlarut-larut kasus ini akan membesar.
Ada dua pilihan yang bisa diambil SBY. Kasus Bank Century bisa diselesaikan dengan jalur hukum dan semua pihak yang terlibat bisa dibawa ke pengadilan. Penyelesaian dengan cara politik -yang sering dilakukan sebelumnya- juga bisa menjadi opsi. Walaupun cara ini akan menjadi bumerang bagi SBY karena rakyat semakin apriori terhadap penegakan hukum di negeri ini.
Hukum memang harus ditegakkan kepada siapapun. Penegakan hukum memang perlu waktu karena kondisi seperti ini sudah lama terjadi. Namun, itu semua harus dimulai dari sekarang. Jika tidak, maka akan terus terjadi kasus-kasus seperti sekarang ini. Now or never.
Ujian Cicak vs Buaya
Perseteruan antara lembaga penegak hukum KPK dengan Polisi menarik perhatian semua komponen masyarakat. Masalah ini juga perlu diselesaikan dengan cepat dan tepat. Jangan sampai terus berlarut dan menghabiskan energi semua komponen bangsa. Padahal hidup harus terus berjalan, perjuangan membangun bangsa ini dari keterpurukan perlu kerja keras dan kerja sama semua pihak.
Idiom Cicak vs Buaya yang dikeluarkan salah satu petinggi POLRI ini menggambarkan adanya pertentangan dan terselip di dalamnya arogansi kekuasaan. Buaya yang besar, kuat dan ada dimana-mana merasa terganggu dengan kehadiran cicak yang kecil tapi punya kekuasaan besar. Bahkan kekuasaan cicak bisa membahayakan sebagian buaya yang selama ini hidup nyaman dan tenteram dengan menyalahgunakan wewenangnya.
Salah satu ciri seorang pemimpin yang sukses adalah bisa merubah konflik menjadi peluang untuk meningkatkan kinerja. Momementum cicak vs buaya ini bisa dijadikan SBY sebagai salah satu pintu masuk untuk melakukan reformasi di lembaga penegak hukum. Selama ini SBY tampak gamang dalam menyikapi masalah ini.
Masalah ini tidak harus diselesaikan dengan memilih memenangkan buaya atau cicak. Kedua-duanya adalah lembaga yang harus kita jaga eksistensi dan integritasnya. Inti masalahnya adalah adanya buaya yang rakus dan memanfaatkan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi. Cicak juga bukan malaikat yang bebas dari kesalahan dan dosa. Bisa juga diantara mereka ada yang berperilaku sama seperti sebagian buaya.
Untuk itu, SBY harus berani melakukan reformasi di kedua lembaga penegak hukum tersebut. Penyelesaian ini juga akan menyelesaikan masalah dari akarnya. Bukan hanya mematahkan ranting yang sudah rusak dan dikotori benalu. Akar permasalahan ada di institusi, sistem dan budaya kerjanya. Ini yang harus diperbaiki.
Reformasi lembaga penegak hukum juga harus dilakukan di kejaksaan dan kehakiman. Mereka adalah institusi yang terkait erat dalam penegakan hukum. Gerbong reformasi harus segera dikaitkan dengan lokomotif penggeraknya agar segera berjalan di rel yang telah ditentukan. Jika reformasi ini tidak dilakukan maka permasalahan seperti ini akan terus berulang. Buaya merasa berkuasa dan akan terus memanfaatkan kekuasaannya. Cicak pun tidak ingin kehilangan wewenangnya dan akan terus mengintai buaya. Lakukan atau hukum akan mati karena para penegak hukumnya saling bertarung. Do or die.
Kedua ujian itu akan menjadi tes bagi kepemimpinan SBY yang selama ini terkesan lamban dan tidak berani mengambil keputusan. SBY lebih sering ingin menyenangkan semua orang dan menghindari konflik. Tipe kepemimpinan seperti ini tidak selalu bisa diterapkan. Menyenangkan semua orang adalah kemustahilan dan konflik adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan.
Pengambilan keputusan apapun pasti ada resikonya. Seorang pemimpin memang harus siap menanggung resiko walaupun itu berarti ada sekelompok orang yang membencinya. SBY dianggap berhasil oleh sebagian besar rakyat terbukti dengan kemenangan mutlaknya di pemilu lalu. Jadikan itu sebuah modal besar untuk melakukan hal besar. Jangan seperti pendahulunya, Soeharto, yang dulu dianggap pahlawan kemudian jadi pesakitan di akhir hidupnya. Jangan sampai SBY menjadi hero to zero.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *