UJIAN BERBASIS SMS (SMS BASED TEST)

MEDAN (Berita): Persoalan penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Nias Selatan yang hingga kini masih menuai masalah, harusnya menjadi pelajaran berharga pada penerimaan CPNS tahun ini. Komisi A DPRD Sumut juga menegaskan akan melakukan pengawalan ketat proses penerimaan CPNS di daerah ini dari mulai proses lamaran hingga kelulusan yang sudah disepakati berdasarkan perankingan.  Sedangkan proses perangkingan dipercayakan kepada perguruan tinggi selaku lembaga independen dalam penerimaan CPNS. (dikutip dari www.beritasore.com, 4 Nopember 2009).
Permasalahan rekruitmen CPNS terjadi hampir di semua daerah. Inti permasalahannya adalah tidak transparannya proses seleksi yang dilakukan. Ketidakterbukaan ini dimanfaatkan oleh para penguasa daerah, birokrat, anggota DPRD, pengusaha atau siapa saja yang punya uang dan bisa akses ke panitia penerimaan CPNS untuk menitipkan anak, saudara, teman dan sebagainya. Akhirnya rekruitmen CPNS ini hanya menjadi arena berbagi lowongan kerja bagi mereka yang punya kuasa dan dana.
Masyarakat umum yang tidak punya kuasa dan dana hanya bisa terpana. Mereka tidak berdaya untuk melawan ketidakadilan ini karena biasanya sulit untuk membuktikan praktek kecurangan yang terjadi. Padahal untuk menjadi pegawai negeri sipil adalah hak semua warga negara tanpa membedakan status sosial dan latar belakang keluarga.
Untuk itu, perlu adanya perubahan sistem rekruitmen CPNS yang radikal agar permasalahan ini tidak terus terjadi. Sebenarnya konsep yang ada sudah cukup baik dengan melibatkan unsur perguruan tinggi sebagai konsultan pelaksana tes tertulis. Namun, hasil ujian yang telah diperiksa dan diurutkan sesuai dengan rangking diserahkan oleh perguruan tinggi tersebut ke Badan Kepegawaian Daerah (BKD). Disinilah terletak permasalahannya. Hasil akhirnya bisa direkayasa untuk memasukkan “orang-orang titipan”. Pengumuman tes seleksi dilakukan oleh BKD bukan oleh perguruan tinggi sebagai pelaksana tes.
Penulis mempunyai ide untuk memperbaiki kondisi tersebut di atas dengan mengenalkan cara ujian dan proses penilaian yang transparan dan adil. Ujian berbasis sms atau sms based test. Cara ini akan mengandalkan teknologi informasi dan meminimalisir keterlibatan unsur manusia di dalamnya sehingga kemungkinan adanya intervensi dan konflik kepentingan bisa dihindarkan.
Proses pertama dimulai dari pengajuan lamaran oleh masyarakat yang memenuhi syarat dilakukan dengan memasukkan data secara on line ke website panitia. Dokumen pendukung yang dibutuhkan seperti fotokopi akte kelahiran, ijazah terakhir yang dilegalisir dan sebagainya diserahkan ke sekretariat panitia. Input data on line ditujukan untuk mengisi database peserta sekaligus pemberian nomor peserta secara otomatis. Peserta diwajibkan untuk menuliskan nomor handphone (HP) yang akan dipakai sebagai alat untuk memberikan jawaban pada tes tertulis. Jika ada peserta yang tidak punya HP bisa meminjam ke teman atau saudaranya.
Langkah berikutnya adalah verifikasi administrasi. Persyaratan seperti umur peserta diverifikasi melalui cross check data dari akte kelahiran, ijazah dan KTP. Pendidikan terakhir diperiksa dengan meneliti keabsahan ijazah peserta. Hal ini harus dilakukan agar peserta yang akan ikut tes dipastikan memenuhi syarat. Apabila ada yang tidak lulus verifikasi maka tidak diperkenankan mengikuti tahapan selanjutnya.
Tahapan berikutnya adalah ujian tertulis. Setiap peserta hanya diperkenankan membawa satu handphone saja yang sudah didaftarkan sebelumnya. Selama ujian berlangsung nomor HP peserta diblokir oleh panitia bekerjasama dengan operator penyedia jasa komunikasi agar tidak bisa menerima dan mengirim kecuali mengirim pesan ke nomor sms center panitia. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya kecurangan dan gangguan selama tes berlangsung.
Peserta mengirimkan jawaban dari tes yang diberikan melalui sms dengan terlebih dahulu memasukkan kode peserta dan kode soal. Jika ada tiga jenis soal maka peserta hanya mengirimkan sms tiga kali. Misalnya tes yang harus dijawab terdiri dari psikotes, pengetahuan umum dan pengetahuan pemerintahan. Pulsa yang digunakan oleh peserta untuk mengirim jawaban tidak dikenakan biaya alias gratis karena ditanggung oleh panitia.
Jawaban dari peserta akan diterima oleh sms center panitia dan langsung diolah dan diperiksa benar salahnya menggunakan software khusus. Setelah diketahui jumlah jawaban yang benar dan total nilai yang diperoleh semua peserta, software ini akan langsung membuat urutan (rangking) peserta dengan nilai tertinggi sesuai dengan jurusan. Contohnya, ilmu administrasi negara dibutuhkan 5 orang CPNS sementara peserta yang ikut tes 250 orang. Hasil tes 250 orang ini akan diurutkan dari yang tertinggi total nilainya sampai yang terendah.
Hasil pengolahan software ini akan langsung ditampilkan di website panitia pada saat itu juga (real time on line). Tidak ada waktu jeda yang terbuang. Hal ini dilakukan agar hasil tes tidak bisa direkayasa atau diubah oleh panitia atau siapapun juga. Peserta juga bisa langsung mendapatkan hasil ujiannya melalui sms yang dikirimkan secara otomatis oleh software yang dipakai oleh sms center.
Untuk menjamin transparansi dan asas keadilan, hasil detail dari tes tertulis ini bisa dilihat di website panitia. Setiap peserta bisa dengan jelas mengetahui berapa total nilainya serta berapa jawaban yang benar dan salah. Bahkan soal nomor berapa yang benar dan salah pun bisa diketahui. Akses untuk bisa melihat detail tes bisa dilakukan dengan memasukkan kode peserta. Peserta juga bisa mengetahui hasil detail tes tertulisnya melalui sms. Mereka cukup kirim permintaan dengan menggunakan kode peserta dan secara otomatis sms center akan mengirimkan hasil tes tertulisnya.
Apabila cara ini digunakan hasil tes rekruitmen CPNS ini bisa diketahui dalam beberapa jam saja. Untuk itu, panitia perlu menyediakan server dengan kapasitas besar dan prosesor yang tangguh karena harus mengerjakan tugas yang banyak dalam waktu yang bersamaan (multi tasking). Selain itu, website panitia juga harus memiliki kapasitas yang cukup agar bisa diakses oleh peserta yang biasanya mencapai ribuan orang dalam waktu yang sama.
Peran panitia atau konsultan dari perguruan tinggi yaitu menata dministrasi serta menyiapkan hardware dan software yang dibutuhkan. Unsur manusia bertugas untuk memastikan semua perangkat yang akan digunakan dalam tes tertulis ini bisa difungsikan pada waktunya. Mereka tidak ikut serta dalam proses penilaian dan tidak bisa mengubah hasilnya.
Ujian berbasis sms ini menjamin adanya transparansi dan keadilan bagi semua masyarakat. Mereka akan berkompetisi secara fair dan sehat untuk menjadi pegawai negeri sipil tanpa harus ada suap menyuap dan koneksi ke pejabat. Kinerja PNS dari hasil rekruitmen ini diharapkan akan jauh lebih baik karena mereka yang terpilih adalah yang terbaik. Mereka juga bekerja tanpa beban untuk “kembali modal” atau “balas jasa” untuk menggantikan biaya masuk jadi PNS.
Investasi cukup besar untuk membeli hardware dan software tidak akan sia-sia karena perangkat ini bisa digunakan untuk keperluan pemerintah daerah yang lain. Sms center masih bisa digunakan untuk menampung keluhan, saran dan kritik dari masyarakat dalam pelayanan publik. Masyarakat cukup mengirim sms untuk mengeluhkan kondisi jalan yang rusak di wilayahnya. Mereka tidak perlu datang langsung ke kantor pemerintah daerah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *