PULSA SEBAGAI ALAT PEMBAYARAN

Bayangkan betapa repotnya para pegawai di minimarket atau hypermarket yang setiap hari harus menyiapkan uang recehan untuk pengembalian belanja pelanggannya. Uang recehan berupa uang kertas atau koin harus tersedia si semua meja kasir. Minimarket masih lebih ringan karena biasanya kasirnya cuma dua sedangkan hypermarket kasirnya bisa lebih dari sepuluh. Berapa banyak uang recehan yang harus disiapkan setiap harinya?.
Kerepotan yang sama terjadi juga di meja kasir tempat parkir, kantin, halte busway, kondektur bis kota dan sebagainya. Mereka yang bergelut dengan transaksi dalam nilai rupiah yang kecil tapi volumenya besar akan selalu mengalami permasalahan yang sama. Jika tidak menyediakan uang recehan yang cukup, pelanggan akan kecewa ketika tidak ada uang kembalian. Solusi yang sering diambil adalah menggantinya dengan permen. Tidak semua pelanggan senang karena tidak adil sebab nilainya tidak sama dan sebagian lagi merasa tidak butuh permen.
Salah satu ciri masyarakat modern adalah sedikit mungkin menggunakan uang tunai (cashless society) karena dianggap tidak praktis. Mereka lebih banyak memakai transaksi elektronik berupa kartu kredit, debet, internet banking atau sms banking. Transaksi elektronik di Indonesia digunakan hanya di tempat tertentu dan dilakukan oleh kalangan terbatas.
Ada solusi yang bisa digunakan dengan mudah dan murah tanpa perlu menyediakan perangkat dan teknologi canggih. Solusinya adalah dengan menggunakan pulsa sebagai alat pembayaran. Dasar pertimbangannya adalah karena sebagian besar masyarakat kita sudah memiliki handphone sehingga membeli pulsa sudah menjadi kebiasaan mereka.
Langkah pertama untuk melaksanakan metode ini adalah adanya perjanjian kerjasama antara operator telepon seluler, merchant (pengelola parkir, minimarket, hypermarket, kantin dan sebagainya) dan bank. Perjanjian ini mengatur tata cara pembayaran dan standard operation procedure (SOP) untuk ketiga pihak tersebut. Kerjasama ketiga pihak ini dilandasi adanya kepentingan yang sama dan saling menguntungkan.  Setelah itu dilakukan sosialisasi metode pembayaran ini melalui iklan di media massa dan informasi yang langsung diberikan oleh operator ponsel, merchant’s dan bank ke pelanggannya masing-masing.
Cara kerja model pembayaran ini adalah pelanggan cukup mentransfer pulsa ke handphone atau sms center milik merchant’s sesuai dengan nilai transaksi yang dilakukan. Pengelola merchant’s mengklaim pulsa yang dia terima setiap hari ke bank untuk dikonversi menjadi tambahan saldo di rekeningnya. Bank menagih nilai pulsa hasil transaksi merchant’s dengan pelanggan ke operator seluler melalui pemotongan nilai saldo rekeningnya. Apabila transaksi model seperti ini diterapkan maka uang tunai tidak perlu digunakan.
Ketiga pihak yang terlibat tidak perlu repot menyediakan uang recehan dan mereka mendapatkan keuntungan. Pelanggan tidak perlu membawa-bawa uang recehan setiap hari. Mereka cukup membeli pulsa dalam jumlah yang cukup untuk kebutuhan selama sebulan setelah mendapat gaji di awal/akhir bulan.
Merchant’s sebagai penjual barang atau jasa mendapatkan keuntungan karena tidak perlu menyediakan uang recehan sehingga pelayanan yang diberikan bisa lebih cepat. Mereka juga bisa mendapatkan pelanggan yang lebih banyak karena kemudahan transaksi ini. Alat yang digunakan pun tidak mahal karena bisa menggunakan HP milik pengelola atau jika transaksinya banyak bisa menggunakan komputer yang dilengkapi dengan sms center.
Bank yang dijadikan sebagai lembaga mediasi akan mendapatkan keuntungan karena para merchant’s dan operator seluler harus memiliki rekening di bank tersebut. Semakin banyak transaksi yang terjadi tentu akan menguntungkan bank karena uang yang tersimpan akan semakin besar. Bank mengambil keuntungan dari time value of money atau nilai waktu dari uang yaitu semakin lama uang disimpan akan semakin menguntungkan karena bisa dikelola oleh bank.
Pulsa sebagai alat pembayaran bukanlah hal mustahil dilakukan. Teknologi yang digunakan tidaklah sulit dan mudah didapatkan. Keuntungan yang akan didapatkan oleh semua pihak yang terlibat sudah jelas tergambarkan. Semua pihak tidak perlu direpotkan lagi untuk mencari uang recehan. Jika ada cara yang lebih mudah, untuk apa pakai cara yang repot?

4 thoughts on “PULSA SEBAGAI ALAT PEMBAYARAN”

    1. betul tapi pulsa tdk menggantikan uang sebagai alat tukar. pulsa hanya menjadi alternatif cara pembayaran. cara ini sudah dipake di negara maju.

  1. ide bagus nich, banyak pihak yang diuntungkan jika bisa terealisir….
    penjualan pulsa operator seluler akan terdongkrak, nasabah bank akan bertambah, resiko uang tunai bagi pemilik merchan akan berkurang dan konsumenpun diberi kemudahan dalam alternatif pembayaran….. the question is how to make it happen….???

    1. first of all, we need political will from government. pemerintah mesti mengeluarkan aturan hukum yang menjadi dasar dari transaksi ini. setelah jelas regulasinya, dibuatkan petunjuk teknis dan SOP yang disusun oleh pihak yang terkait dengan transaksi seperti bank, merchant, provider dan konsumen. jadi deh…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *