Pujian dan Kritikan

Seorang anak yang sedang belajar naik sepeda perlu pujian ketika sudah berhasil menggowes sedikit meskipun kemudian terjatuh. Pujian akan membesarkan hatinya, memberikan semangat dan memotivasi untuk bangkit kembali dan mencoba lagi. Ia akan yakin kalau dirinya bisa jika mau terus mencoba.

Ibarat gula, pujian akan terasa manis di hati. Tapi jika terlalu banyak gula pun bisa berbahaya. Pujian yang berlebihan akan membuat kita terlena. Merasa diri di atas angin, jumawa. Bangga berlebihan terhadap diri sendiri dan mungkin akan menjadikan diri kita sombong.

Pujian diperlukan seperlunya sebagaimana gula dibutuhkan dalam keseharian. Jangan berlebihan tapi jangan juga tak diberikan. Kita perlu pujian agar kita lebih semangat melangkah melalui berbagai ujian kehidupan.

Hati kita kadang dibutakan jika kritik datang. Merasa diri sudah benar tapi ternyata banyak kekurangan. Seringkali kita tak mau menerima kritik padahal bisa jadi itu benar.

Ia membuat hati kita merasa sakit hati. Padahal kritik seperti obat terasa pahit di lidah. Tapi ia bermanfaat membuat tubuh kita menjadi sehat. Kritik yang disampaikan dengan cara yang baik akan membuat kita sadar diri. Kembali menatap cermin memeriksa segala kekurangan dan kesalahan.

Kritik seperti obat sangat diperlukan dengan dosis yang sesuai. Jangan berlebihan karena bisa menghancurkan. Tak boleh juga dilupakan karena akan membuat diri kita merasa selalu benar.

Pujian dan kritikan ibarat dua sisi mata uang. Keduanya dibutuhkan dalam kehidupan setiap insan dengan kadar yang sesuai. Tak boleh berlebihan tapi jangan juga tak diberikan. Ada ungkapan yang mengatakan “jika seseorang tak kuat menghadapi kritikan, ia belum pantas menerima pujian”.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *