PENDIDIKAN ANAK USIA DINI MASIH TERABAIKAN

Tahukah anda bahwa dari sekitar 400.000 anak usia dini di Kabupaten Tangerang hanya 7% saja yang sudah mendapatkan pendidikan. Untuk tingkat nasional, 28 juta anak usia 0-6 tahun, sebanyak 73 persen atau sekitar 20,4 juta anak belum mendapatkan layanan pendidikan. Kesenjangan antara wilayah pedesaan dan perkotaan juga terjadi. Hasil yang serupa juga ditemui pada penelitian yang dilakukan oleh Yuliana dkk. di penghujung tahun 2004 dan awal tahun 2005 di Pulau Jawa, bahwa sebagian besar (86.3% di pedesaan dan 73.2% di perkotaan) anak usia prasekolah belum mengakses program-program pendidikan yang ada baik di jalur formal maupun non formal.

Banyak faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat partisipasi anak dalam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Diantaranya yaitu sarana pendidikan yang terbatas dan tidak merata terutama di pedesaan dan kurangnya pemahaman orang tua tentang pentingnya PAUD. Selain itu, perlu dana yang tidak sedikit untuk biaya pendidikan di TK/RA, kelompok bermain dan semacamnya. Bahkan di kota besar ada TK atau playgroup yang biaya masuknya lebih besar daripada SD dan SMP.

Sarana PAUD memang belum merata tersedia di pedesaan. Hal ini mengakibatkan banyak anak yang tidak bisa menikmati pendidikan sejak usia dini. Untuk mendirikan TK atau kelompok bermain memang tidak mudah dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sementara di pedesaan taraf ekonomi masyarakatnya relatif rendah sehingga untuk mendirikan TK menjadi tidak feasible. Dalam bahasa yang lebih sederhana bisa dikatakan “tidak bisa balik modal”.

Faktor yang paling penting dalam pendidikan anak sebenarnya adalah orang tua terutama ibu. Bukan berarti seorang bapak tidak perlu bertanggung jawab terhadap  pendidikan anaknya. Namun, biasanya dan seharusnya yang lebih banyak di rumah dan mengurus anak adalah ibunya. Untuk itu, pemahaman orangtua tentang pentingnya pendidikan anak usia dini sangat menentukan. Sebagian orangtua berpandangan mereka hanya “wajib” memberikan pendidikan kepada anaknya ketika masuk sekolah formal yaitu SD dan seterusnya. Sedangkan pendidikan anak sebelum usia SD sering diabaikan dan dianggap sebagai “sunnah”.

Biaya yang mahal menjadi salah satu faktor rendahnya tingkat partisipasi dalam PAUD. Dana yang perlu dikeluarkan oleh orangtua yang menyekolahkan anaknya di TK/playgroup memang tidak sedikit. Selain uang masuk yang jumlahnya cukup besar, ditambah lagi dengan uang bulanan. Belum lagi ada tambahan pengeluaran yang bisa menguras kantong yaitu uang untuk berenang, manasik haji, outbound, piknik, wisuda dan lain sebagainya. Hampir setiap bulan ada kegiatan yang membutuhkan biaya tambahan dari orangtua. Pada kondisi ekonomi yang belum kunjung membaik ini, para orangtua akan memprioritaskan pengeluaran dananya hanya untuk kebutuhan yang paling penting dan mendesak saja. Oleh karena itu, jika mereka belum memahami pentingnya PAUD maka dana untuk itu tidak akan pernah menjadi prioritas.

Padahal PAUD sangat penting dan harus dimulai ketika anak baru lahir. Pada saat anak dilahirkan, ia sudah dibekali dengan struktur otak yang lengkap, namun baru mencapai kematangannya pada saat setelah di luar kandungan. Bayi yang baru dilahirkan memiliki lebih dari 100 miliar neuron dan sekitar satu trilyun sel glia yang berfungsi sebagai perekat serta synap (cabang-cabang neuron) yang akan membentuk bertrilyun-trilyun sambungan antar neuron yang jumlahnya melebihi kebutuhan. Synap ini akan bekerja sampai usia anak lima-enam tahun.

Banyaknya jumlah sambungan tersebut mempengaruhi pembentukan kemampuan otak sepanjang hidupnya. Pertumbuhan jumlah jaringan otak dipengaruhi oleh pengalaman yang didapat anak pada awal-awal tahun kehidupannya, terutama pengalaman yang menyenangkan. Pada fase perkembangan ini, anak memiliki potensi yang luar biasa dalam mengembangkan kemampuan berbahasa, matematika, keterampilan berpikir, dan pembentukan stabilitas emosional.

Pertumbuhan otak anak ditentukan oleh bagaimana cara orangtua mengasuh dan memberi makan serta menstimulasi anak pada usia dini yang sering disebut critical period ini. Gizi yang tidak seimbang, maupun gizi buruk, serta derajat kesehatan anak yang rendah akan menghambat pertumbuhan otak, dan pada gilirannya akan menurunkan kemampuan otak dalam mencatat, menyerap, menyimpan, memproduksi dan merekonstruksi informasi.

Solusi dari masih rendahnya partisipasi dalam pendidikan anak usia dini harus segera direalisasikan agar permasalahan ini tidak terus membesar. Ada beberapa alternatif solusi yang bisa secara simultan dilakukan karena faktor penyebabnya memang tidak tunggal. Diantaranya yaitu peningkatan pemahaman orangtua tentang pentingnya pendidikan anak usia dini, PAUD gratis untuk rakyat miskin serta sosialisasi konsep home schooling sebagai salah satu alternatif model pendidikan.

Untuk meningkatkan pemahaman orangtua tentang pentingnya pendidikan anak dimulai sejak awal kelahiran, perlu dilakukan kampanye besar-besaran melalui berbagai media. Iklan layanan masyarakat di televisi akan sangat efektif menjangkau hampir semua lapisan masyarakat. Dilengkapi dengan informasi yang gencar disampaikan melalui surat kabar, majalah, radio dan internet. Media luar ruang (outdoor) seperti spanduk, baliho, poster, pamflet dan semacamnya akan menarik perhatian masyarakat jika dikemas dengan menarik. Selain itu, untuk memperdalam informasi bisa dibuat buku saku atau cd/vcd berisi materi yang berkaitan. Tak kalah pentingnya adalah perlu diadakan penyuluhan langsung kepada para orangtua melalui pengajian di majlis taklim, arisan dan lain sebagainya.

Mengingat masih banyak keluarga di Indonesia yang tergolong miskin maka pemerintah berkewajiban mengadakan PAUD gratis karena pendidikan adalah hak semua orang. Konsep ini bisa meniru program posyandu dan bidan desa. Setiap RT atau RW dibentuk kelompok bermain atau TK yang bisa menempati bangunan yang sudah ada jadi tidak perlu ada dana pembangunan. Misalnya, di masjid, musholla, balai desa dan lain-lain. Instrukturnya berasal dari guru khusus yang ditempatkan di desa tersebut. Dia akan bertugas keliling seperti bidan desa dan tentu harus diberikan gaji yang sesuai.

Alternatif lain yang bisa dilakukan adalah menggiatkan praktek home schooling (sekolah rumah). Metode ini menitikberatkan rumah sebagai basis pendidikan bagi anak. Biasanya dilakukan untuk anak sendiri atau sering disebut home schooling tunggal. Bisa juga beberapa anak dari keluarga yang tinggal berdekatan melakukan kegiatan belajar bersama di satu rumah atau berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah yang lain. Kegiatan ini disebut home schooling majemuk. Ada juga pesertanya yang lebih banyak dan beragam yang sering disebut home schooling komunitas.

Metode ini perlu terus disosialisasikan kepada masyarakat luas agar semakin banyak keluarga yang menerapkannya. Hal ini dilakukan karena home schooling bisa menjadi salah satu alternatif selain model sekolah yang sudah lazim ada. Orangtua akan menjadi guru bagi anak-anaknya atau bisa juga menggunakan jasa tutor profesional. Semakin banyak alternatif akan semakin besar juga tingkat partisipasi anak dalam PAUD sehingga kualitas manusia Indonesia akan terus meningkat.

13 thoughts on “PENDIDIKAN ANAK USIA DINI MASIH TERABAIKAN”

  1. Iyah memang harus ada sosialisasi kepada masyarakat, but uyang wajib mensosialisasikan itu siapa..??
    apakah ada dana dari pemerintah..??
    Sebaiknya dari kalangan mahasiswa saja yang turun ke masyarakat..
    Saya sangat setuju sebaghai mahasiswa..
    Salam…

    1. dana dari pemerintah ada dan cukup besar lho. Baik di Diknas pusat maupun daerah. Coba aja joko & temen2 mahasiswa bikin wadah untuk menangani pendidikan anak usia dini, minta dananya ke pemda lewat dinas pendidikan. Sekalian sarana praktek ilmu yg sdh didapat di kampus. Oke, maju terus Indonesia

    1. thanks for your comment, kita harus coba dimulai dari yg paling kecil. Lingkungan sekitar kita minimal. Ok, selamat mencoba

    1. ibu adalah guru pertama dan utama untuk anak-anaknya. anak saya yg pertama sdh kelas 2 sd, gak pake tk tapi belajar di rumah sama ibunya. dia sdh bisa baca sebelum masuk sd. anak yg kedua, 4,5 tahun sekarang sdg belajar baca sama ibunya di rumah. belajar bisa dimana saja & kapan saja.

  2. oke saya sangat setuju,memang program ini seharusnya disosialisasikan kepada masyarakat. yang terpenting aparat desa harus ikut mengurusi juga

  3. Tugas awal pemerintah harusnya dimulai dari anak-anak. Perpustakaan umum salah satu sarana pemerintah untuk memberikan pendidikan kepada anak usia dini ini, tapi apa daya perpustakaan daerah banyak yang jalan di tempat. Langkah penting lainnya, pemerintah mewajibkan belajar 10 tahun, bukan 9 tahun. Sesekali kita bisa mencontoh kebijakan dari luar negeri untuk masalah yang satu ini.

  4. Pemerintah sudah berusaha kuat melalui direktorat Pendidikan Anak usia dini untuk memberikan perhatian kepada pendidikan anak usia dini di Indonesia, tetapi tergantung masing-masing daerah, jaman otonomi daerah memang juga memberikan berbagai persoalan dan permasalahan terhadap kebijakan yang tempuh masing-masing kepala Daerah, ada yang fokus dan intens membina pendidikan anak usia dini, tapi ada yang lebih memperhatikan aspek dan bidang lain yang mereka anggap lebih krusial. Artikel yang menarik, terimakasih sudah disare. sukses selalu buat mas Akhmad Farhan…salam

  5. Pemerintah melalui Dirjen PAUDNI sudah berusaha seoptimal mungkin untuk memberikan pelayanan program dan bantuan dana, tapi karena faktor pemerataan yg kurang pada masing-masing daerah maka tidak semua daerah dapat terjangkau program yang dilakukan. Diaharapkan agar setiap daerah melalui pemerintah yang menangani masalah pendidikan anak usia dini ini agar lebih pro akttiv dalam memberikan layanan, baik dari segia data maupun proses programa pembelajaran di satuan pendidikan yang dibawahinya, terimakasih pak sudah disare artikel ini sangat menarik, salam kenal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *