PARTAI ISLAM DAN PEMILU 2009

Pelaksanaan pemilhan umum memang baru akan dilaksanakan pada 10 April 2009. Namun, genderang perang telah ditabuh dan mulai terdengar. Dimulai dari penetapan partai peserta pemilu oleh KPU, dilanjutkan dengan penetapan nomor urut partai dan yang terakhir adalah ikrar kampanye damai. Acara terakhir ini menandakan dimulainya kampanye resmi dalam format terbatas.

Pemilu 2009 memang membawa beberapa hal baru. Diantaranya yaitu jumlah partai peserta pemilu yang mencapai 34 parpol. Hal ini disebabkan partai lama yang memperoleh suara di parlemen bisa langsung menjadi peserta pemilu tanpa memperhitungkan electoral threshold. Selain itu, kampanye tertutup yang sifatnya bukan pengerahan massa dimulai jauh hari sebelum hari H pemungutan suara.

Beberapa hal baru itu tentu membawa konsekuensi bagi parpol peserta pemilu termasuk partai Islam. Definisi partai Islam sendiri sering menjadi perdebatan. Apakah harus berideologi Islam, berbasis massa Islam atau cukup hanya sebagian besar pengurusnya Islam?. Tulisan ini tidak akan membahas terlalu dalam tentang definisi tapi yang dimaksudkan dengan partai Islam dalam artikel ini ialah partai yang berideologi Islam atau memiliki basis massa umat Islam.

Partai yang bisa digolongkan sebagai partai Islam misalnya PPP yang sejak awal berdirinya memang mengklaim diri sebagai partai Islam. Selain itu, sejak era reformasi beberapa partai muncul dengan identitas keislaman yang kuat seperti Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Ada juga partai yang tidak merasa pas disebut partai Islam tapi memiliki basis massa umat Islam yaitu Partai Amanat Nasional (PAN). Tidak bisa dipungkiri partai ini dipelopori dan berbasiskan ormas Muhammadiyah.

Prediksi Perolehan Suara Pemilu 2009

Hasil survey terakhir yang dibuat oleh Indobarometer seperti yang disampaikan oleh direktur eksekutifnya M. Qodari pada hari Rabu 9 Juli 2008 cukup mengejutkan beberapa pihak. Pengumuman hasil survey ini dilakukan dalam acara dengan judul “Berpacu Dalam Pemilu” di Hotel Century Park, Jakarta. Survey nasional yang diadakan sejak tanggal 5 sampai dengan 16 Juni 2008 ini memberikan hasil sebagai berikut PDIP 23,8%, Golkar 12%, Demokrat 9,6%, PKS 7,4%, PKB 7,4%, PAN 3,5%, Hanura 2,3% dan PPP 1,6%.

PDIP berada di urutan teratas sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Posisinya sebagai satu-satunya ”partai oposisi” cukup menguntungkan dilihat dari sisi pemasaran. Ketika partai berkuasa atau yang mengendalikan pemerintahan dianggap gagal oleh masyarakat maka mereka akan lebih memilih partai yang berseberangan dengan penguasa. Trend kenaikan suara partai berlambang banteng dengan moncong putih mulai terasa. Hal ini terbukti dalam beberapa pilkada terakhir yang dimenangkan oleh PDIP seperti di Jawa Tengah, Maluku dan Bali.

Hasil yang paling mengejutkan tentu adalah prediksi perolehan suara yang diperoleh PPP. Partai yang telah berkiprah sejak masa orde baru ini bisa dikatakan meluncur tajam. Hasil Pemilu 2004 partai berlambang Ka’bah ini memperoleh suara 8,15% suara. Ini berarti mereka kehilangan 6,55% suara. Bahkan PPP ”dikalahkan” oleh pendatang baru yaitu partai HANURA.

Jika diibaratkan dengan product life cycle dalam dunia pemasaran mungkin kita bisa menyebutnya sebagai party life cycle, PPP sudah berada dalam tahap declining. Partai ini sudah melewati masa puncaknya (maturity) dan berada dalam posisi stagnasi. Dalam posisi stagnasi dan kondisi pasar yang terus berubah maka tidak aneh jika perolehan suara mereka menurun sampai ke titik dasar.

Ibarat sebuah produk yang sudah tidak terlalu digemari konsumen, PPP harus melakukan inovasi dan revitalisasi. Produk yang sudah dalam tahap penurunan berinovasi dengan mengganti kemasan, merubah logo atau warna dan membuat produk baru yang disesuaikan dengan selera masyarakat. Mungkin PPP harus melakukan perubahan mendasar bisa dengan regenerasi pengurus yang dulu selalu didominasi generasi tua.

Bahkan jika perlu mengganti lambang dan warnanya dengan yang lebih segar. Lambang PPP yang terkesan kaku dan kuno bisa dirubah tanpa menghilangkan identitas aslinya. Image PPP sebagai partai milik orang tua yang cenderung konservatif perlu diubah. Perubahan lambang atau logo suatu organisasi terkait erat dengan perubahan brand image yang ingin dilakukan. Contohnya adalah perubahan lambang Pertamina dan Bank Mandiri.

PKB juga mengalami penurunan menurut survey Indobarometer ini. Pada pemilu 2004 partai ini memperoleh 10,57% suara sedangkan prediksinya hanya mendapatkan 7,4%. Salah satu penyebabnya adalah konflik berkepanjangan yang seakan tidak pernah ada habisnya. Rakyat bosan melihat pertikaian elit partai berebut kekuasaan.

Padahal partai ini memiliki captive market yang sangat jelas yaitu massa dari ormas Nahdatul Ulama (NU). Artinya jika mereka bisa mempertahankan basis perolehan suara di kantong-kantong NU saja hasilnya sudah cukup baik. Apalagi jika bisa melakukan ekspansi ke segmen lain. Bisa jadi lama kelamaan massa NU akan beralih ke partai lain yang bisa menampung aspirasi mereka tanpa harus disibukkan dengan gonjang-ganjing yang sampai saat ini masih berlangsung. Jika partai lain sudah siap berperang maka partai ini masih berperang dengan dirinya sendiri.

PAN juga mengalami penurunan yang signifikan dari 6,44% pada pemilu 2004 menjadi 3,5% menurut hasil survey ini. Sebagian kalangan menganggap PAN mengalami krisis identitas. Mereka tidak mau dianggap sebagai partai Islam karena terkesan ”kesempitan” tapi juga tidak mau menjadi partai sekuler. Basis massa mereka di ormas Muhamadiyah tidak mau dilepas bahkan ingin terus melebarkan sayap ke segmen masyarakat yang lain.

Saat ini PAN akan mengalami tantangan khususnya di captive market massa Muhamadiyah. Sebagian fungsionaris muda Muhamadiyah mendirikan partai baru yaitu Partai Matahari Bangsa (PMB). Sangat mungkin suara PAN akan terkikis di internal ormas Islam ini. Sementara segmen pasar yang lain juga belum tentu bisa didapatkan.

Partai Keadilan Sejahtera sebagai kekuatan baru di pentas politik nasional tidak mengalami perubahan yang berarti. Keberhasilan meraih suara 7,34% pada pemilu 2004 diprediksi oleh hasil survey ini hanya meningkat sangat tipis menjadi 7,4% saja. Pengurus dan kader partai ini harus bekerja keras jika ingin mencapai target yang sangat tinggi yaitu 20% suara. Target itu seperti mimpi walaupun mimpi bisa juga menjadi motivasi.

Apa yang harus dilakukan?

Hasil survey Indobarometer ini memang bukan sebuah kepastian. Masih ada waktu sembilan bulan lebih sebelum hari penentuan. Ini hanyalah early warning atau peringatan dini kepada semua pihak agar melakukan instropeksi dan mempersiapkan diri. Siap untuk menerima segala konsekuensi.

Fakta yang menarik berdasarkan beberapa survey adalah lebih dari 25% masyarakat belum menentukan pilihan. Artinya peluang partai Islam untuk memanfaatkan swing voter ini masih terbuka lebar. Mereka masih ragu untuk memilih maka mereka harus diyakinkan dengan program dan aksi nyata bukan sekedar retorika.

Satu hal yang patut diperhatikan betul adalah kemungkinan mereka yang belum menentukan pilihan ini akan memilih untuk tidak memilih alias golput. Jika selama sembilan bulan ke depan tidak ada upaya dari partai politik, pemerintah atau KPU yang meyakinkan mereka untuk memilih mungkin golput adalah sebuah pilihan. Manfaatkanlah waktu kampanye yang panjang ini meraih simpati dan merebut hati mereka. Selamat berjuang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *