Momentum

Pernahkah terlintas di pikiran kita, mengapa manusia selalu memperingati suatu peristiwa? Dimulai dari yang bersifat personal seperti hari ulang tahun, pernikahan bahkan kematian. Tak ketinggalan yang bersifat komunal seperti hari kemerdekaan dan peristiwa bersejarah lainnya.
Manusia memang memerlukan waktu tertentu untuk mengingat dan mengenang kejadian penting dalam kehidupan pribadi dan komunitasnya. waktu itulah yang disebut sebagai momentum.
Momentum itu harus dimanfaatkan oleh kita bukan sekedar romantisme sejarah atau malah diisi dengan hura-hura apalagi huru-hara. Lebih baik momen bersejarah diperingati dengan melakukan kontemplasi diri, menghitung apakah ada peningkatan kualitas hidup kita sebagai pribadi atau komunitas.
Momentum memperingati hari kelahiran kita harus dijadikan sebagai sarana mengevaluasi diri, menghitung amal kebaikan dan mengkalkulasi kealpaan/kekhilafan. Amal kebaikan dihitung agar bisa memotivasi diri untuk berbuat lebih baik karena banyak kebaikan yang belum dilakukan.
Kealpaan dan kekhilafan perlu dikalkulasi sebagai sarana mengkoreksi diri untuk menjadi insan sejati. Manusia sejati bukanlah mereka yang hidup tanpa kesalahan. Insan sejati adalah mereka yang selalu menyadari kesalahan dan belajar dari kesalahan.
Momentum juga bisa dijadikan sebagai wahana mengokohkan impian dan menguatkan kemauan untuk mencapai tujuan. Cita-cita kita hanya akan menjadi kata-kata tanpa ada langkah-langkah nyata.
Mari jadikan momentum apapun sebagai halte tempat kita beristirahat sejenak dari rutinitas kehidupan. Untuk kembali melangkah dengan tekad yang lebih menyala dan semangat yang membara.

3 thoughts on “Momentum”

    1. Insya Allah, kita semua harus terus belajar berkhidmat seperti Rasulullah dan para sahabat…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *