Mempersiapkan Generasi Kreatif dan Mandiri

Perputaran waktu dan pergantian zaman merupakan sesuatu yang tak bisa dihindari, oleh karena itu peralihan generasi adalah sunatullah dalam kehidupan kita ini. Masa depan ummat, bangsa dan negara salah satunya sangat tergantung pada bagaimana kondisi generasi muda pada hari ini. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan generasi muda (anak-anak kita) untuk menghadapi hari esok yang zamannya sangat berbeda dengan yang kita alami saat ini.

Cara mempersiapkan generasi muda adalah dengan memberikan pendidikan yang baik. Pendidikan bagi seorang anak menjadi tanggung jawab bersama yaitu keluarga, sekolah, masyarakat dan pemerintah. Setiap pihak memiliki peran yang berbeda. Jika peran ini dimainkan masing-masing pihak dengan baik maka akan baik pula pendidikan anak-anak kita dan begitu juga sebaliknya.

Keluarga adalah pendidik pertama dan yang utama. Lebih khusus lagi adalah ibu. Peran ibu dalam mendidik anak sangat besar dan tak bisa digantikan. Kewajiban mendidik anak sudah tergambar jelas dalam Al Qur’an Surat At Tahriim (66) ayat 6. Masalah yang sering dihadapi orang tua adalah bagaimana cara mendidik anak agar menjadi anak yang soleh.

Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam buku Tarbiyyatul Aulad Fil Islam menyebutkan ada 5 metode yang perlu dilakukan orang tua dalam mendidik anak-anaknya, yaitu:

  1. Mendidik anak dengan keteladanan yang baik, orang tua harus memberikan contoh yang baik setiap hari dalam berbagai hal. Jangan sampai ada orang tua yang memerintahkan sesuatu yang baik kepada anaknya tapi dia sendiri tidak melaksanakannya sebagaimana dalam firman-Nya Al Qur’an Surat Al Baqoroh (2) ayat 44.
  2. Mendidik anak dengan pembiasaan yang baik, segala hal yang baik dalam Islam sudah harus dibiasakan dilaksanakan walaupun anak kita masih kecil.
  3. Mendidik anak dengan pengajaran dan dialog, orang tua perlu mengembangkan suasan dialogis dengan anaknya. Sebagaimana Nabi Ibrahim as telah mencontohkan ketika beliau berdialog ketika mendapat perintah Allah untuk menyembelih Ismail as anaknya sendiri. (QS 37:102)
  4. Mendidik anak dengan pengawasan dan nasihat, orang tua harus mengontrol perkembangan anaknya, dengan siapa ia berteman dsb dan jika ada hal yang kurang baik maka ia harus memberi nasihat. Contohnya dalam surat Lukman ayat 12-19 ketika Lukmanul Hakim menasehati anaknya.
  5. Memberikan hukuman atau sanksi, apabila anak tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan sementara perintah yang lemah lembut sudah diberikan.

Sekolah memiliki peran yang besar dalam pendidikan anak karena mereka yang berhak melakukan proses pendidikan formal. Keberhasilan pendidikan anak di sekolah sangat tergantung pada kualitas guru, kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan dan juga anak itu sendiri. Cara guru mengajar yang lebih mengutamakan hafalan daripada pemahaman membuat anak lebih sering menggunakan otak kiri daripada otak kanan. Sehingga proses pendidikan di sekolah terasa kaku, membosankan dan cenderung mematikan kreatifitas dan kemandirian anak.

Mendidik anak menjadi kreatif dan mandiri harus dimulai dari keluarga dan sekolah sebagai lingkungan yang terdekat dengan anak. Sebelumnya, kita harus mengerti dulu apa itu kreatifitas dan mandiri. Kreatifitas menurut Zimmerer adalah kemampuan untuk mengembangkan ide-ide baru dan untuk menemukan cara-cara baru dalam memecahkan persoalan dan menghadapi peluang. (Creativity is the ability to develop new ideas and to discover new ways of looking at problems and opportunities). Sedangkan kemandirian secara sederhana bisa diartikan tidak tergantung pada orang lain. Anak yang kreatif dan mandiri harus banyak menggunakan otak kanannya.

Orang yang lebih banyak menggunakan otak kiri atau otak kanan dapat dilihat dari ciri-ciri yang terdapat pada tabel berikut ini:

O T A K K I R I

O T A K K A N A N

Intelektual

Emosional

Logis

Intuitif

Kata

Gambar

Statis

Dinamis

Hafalan

Pemahaman

Fakta

Gagasan

Sempit

Luas

Pasif

Aktif

Bimbingan

Insiatif

Jangka Pendek

Jangka Panjang

Akal Sehat

Imajinasi

Kaku

Spontan

Keluarga dan sekolah tidak bisa berjalan sendiri, mereka harus didukung oleh komponen masyarakat untuk menghasilkan generasi baru yang dinanti, generasi kreatif dan mandiri. Peran masyarakat bisa sebagai pelaku misalnya dengan mendirikan sekolah, PLS, PKBM, atau LSM yang berperan aktif dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Masyarakat juga bisa berperan sebagai kontrol sosial terhadap kondisi pendidikan atau kebijakan pemerintah di bidang pendidikan.

Elemen lain yang tidak bisa dikesampingkan perannya adalah pemerintah. Perannya sebagai regulator dan fasilitator. Regulator berarti pemerintah menyediakan perangkat aturan berupa UU misalnya UU Sisdiknas, UU Guru, PP, Kepmen dsb. Tidak hanya itu tapi juga kurikulum pendidikan. Fasilitator artinya pemerintah menyediakan fasilitas seperti gedung sekolah, buku, guru dan semua sarana yang dibutuhkan untuk pendidikan.

Keluarga, Sekolah, Masyarakat dan Pemerintah harus bersatu padu agar tujuan pendidikan bisa tercapai. Menurut UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas pendidikan bertujuan menjadikan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demoktratis serta bertanggung jawab. Panjang amat yah kayak kereta.

Berhasil atau tidak tergantung kita. Kalau bukan kita, siapa? Kalau tidak sekarang, kapan? Mulailah dari yang kecil, mulailah dari diri kita sendiri, mulailah dari sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *