Listening Skill

Banyak orang beranggapan bahwa kemampuan berkomunikasi paling penting adalah berbicara atau orasi, pidato dan segala macam. Intinya kita sering melihat kemampuan komunikasi hanya dari sudut pandang sempit sebatas lisan saja. Padahal kemempuan komunikasi yang terpenting adalah mendengarkan. Itulah rahasianya kenapa Allah SWT memberikan kepada kita dua telinga dan satu mulut. Manusia dituntut untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara.

 

Pelatihan berbicara di depan umum atau public speaking sudah sering kali diadakan. Namun, pelatihan mendengarkan sangat jarang dilakukan. Semoga tulisan ini bisa menjadi awal untuk kita lebih memahami bagaimana cara mendengarkan yang baik.

 

“Know how to listen and you will profit even from those who talk badly” Plutarch

 

Profil keterampilan dasar komunikasi

 

Keterampilan komunikasi

Urutan dipelajari

Tingkat penggunaan

Tingkat pengajaran

Listening

Satu

Satu

Empat

Speaking

Dua

Dua

Tiga

Reading

Tiga

Tiga

Dua

Writing

Empat

Empat

Satu

 

 

Bahasa Inggris memiliki dua kata yang berarti mendengar yaitu ”listening” dan “hearing”. Terkadang kita sulit membedakan penggunaan dua kata tersebut. “hearing” adalah mendengar yang bersifat fisik, artinya ada suara yang terdengar oleh telinga, namun tidak dicerna oleh pikiran, jadi apa-apa yang terdengar bersifat angin lalu, tidak berkesan. “Listening” dilain pihak lebih dari sekedar “hearing”. “Listening” melibatkan usaha-usaha aktif dari pikiran dan perhatian penuh atas apa yang kita dengar melalui telinga.

Tingkatan proses mendengarkan/stages of the listening process

  1. Mendengarkan/hearing
  2. Fokus kepada pesan
  3. Memahami dan menginterpretasikan
  4. Menganalisa dan mengevaluasi
  5. Merespon
  6. Mengingat

 

Sumber umpan balik/feedback terdiri dari:

  1. Kontak mata
  2. Ekspresi wajah
  3. Gerakan kepala
  4. Sentuhan
  5. Respon verbal

 

            Kemampuan mendengarkan dengan efektif adalah salah satu keahlian penting dalam komunikasi. Namun untuk mendengarkan dengan baik tidaklah mudah karena ada beberapa hambatan diantaranya yaitu:

1.       Perbedaan mendengarkan-berbicara; kecepatan seseorang berbicara hanya 25% dibandingkan kecepatan berfikirnya sehingga ketika mendengarkan orang lain berbicara mereka sudah memikirkan hal yang lain.

2.       Motivasi

3.       Keinginan

4.       Gangguan internal dan eksternal

5.       Pemutaran makna

6.       Debat

7.       Waktu

 

Ada lima kendala dalam proses mendengar. Lima kendala tersebut adalah:

1. Preoccupation; Situasi dimana seseorang sedang “sibuk” dengan sebuah urusan lain yang tidak secara langsung berhubungan dengan topik pembicaraan.

2. Preconceived ideas; Merupakan berbagai ide dan gagasan atau pemahaman yang sudah terlanjur mendominasi pikiran seseorang.

3. Talking too much; Seseorang yang terlalu banyak bicara cenderung dilatarbelakangi oleh rasa bersalah, takut, khawatir, tidak nyaman atau bersifat egois.

4. Thinking of responses; Kendala ini sering disebut dengan “bigger fish syndrome” yaitu kesulitan untuk menjaga kesinambungan pernyataan.

5. A lack of interest; Kendala ini adalah kendala yang paling susah dijinakkan. Manusia cenderung mengaitkan sesuatu hanya dengan hal-hal yang dimengerti, dengan orang atau dengan sesuatu yang bisa memberi manfaat secara pribadi. Jika sesuatu tidak menarik, kita akan cenderung mengabaikannya.

 

 

            Hambatan untuk mendengarkan dengan aktif ada 3 jenis:

  1. Hambatan lingkungan; gangguan suara dari luar, suhu udara yang ekstrim terlalu panas/dingin, lelah, lapar, kursi/pakaian/sepatu yang tidak nyaman dipakai, dan sebagainya.
  2. Hambatan fisiologis; perbedaan kecepatan antara kemampuan berfikir dan berbicara. Seorang manusia bisa berfikir lima kali lebih cepat daripada berbicara. Rata-rata kecepatan berbicara 125-150 kata/menit sedangkan otak dapat berfikir dengan kecepatan 500-1000 kata/menit.
  3. Hambatan psikologis terdiri dari;
    1. Selective listening: hanya ingin mendengarkan informasi tertentu yang dianggap penting saja dan mengacuhkan yang lain.
    2. Negative listening attitude: sikap mendengarkan yang negatif.
    3. Personal reactions to words: merespon kata secara denotatif dan konotatif.
    4. Poor motivation: Kita tidak akan termotivasi untuk mendengarkan jika tidak tahu tujuan untuk apa mendengarkan.

 

Jenjang tujuan mendengarkan:

  1. Response/action
  2. Analysis
  3. Retention/ingatan
  4. Understanding
  5. Enjoyment 

 

Panduan untuk mendengarkan dengan baik:

1.      Berhenti bicara. Dengarkan dengan baik sampai pembicara selesai menyampaikan pesan.

2.      Hindari, kurangi atau hilangkan gangguan yang menyebabkan teralihnya perhatian.

3.      Mencurahkan energi yang dibutuhkan untuk kepentingan pembicara dengan perhatian kita.

4.      Gunakan sela waktu untuk memikirkan apa yang pembicara katakan.

5.      Identifikasi ide utama dan pokok bahasan pembicara.

6.      Nilai isi pesannya bukan cara pembicara menyampaikan pesan.

7.      Gunakan kata-kata sendiri, mencatat isi pesan dan ajukan pertanyaan pada waktu yang sesuai untuk memastikan pemahaman.

8.      Interpretasikan kata-kata yang mengandung unsur emosional seperlunya. Jangan berlebihan.

9.      Berikan umpan balik yang berguna.

10.  Dengarkan perasaan pembicara bukan hanya fakta dari isi kata-katanya.

Tehnik untuk mendengarkan menjadi penting untuk diketahui bukan hanya      oleh manajer saja. Semua manusia pada dasarnya harus memiliki kemampuan mendengarkan ini. Beberapa tehnik mendengarkan dalam situasi aktif maupun interaktif seperti terlihat dalam tabel berikut ini:

Situasi Aktif

Situasi Interaktif

Identifikasi tema utama dan pendukung

Tanya pertanyaan terbuka dan tertutup

Pengaturan pesan

Tanya pertanyaan utama dan pendukung

Ringkas pesan

Tanya pertanyaan netral dan pertanyaan yang diarahkan

Visualisasikan pesan

 

Personalisasikan pesan

 

Ambil catatan

 

7 thoughts on “Listening Skill”

  1. selama ini klo ngebayangin communication skill itu pokoknya smw yg berbau berbicara. kita berbicara di depan orang lain.. eh.. ternyata mendengarkan itu jg salah satu dr communication skill yah..
    selama ini juga mikirnya mendengarkan itu suatu hal yang gampang. krn sy suka sekali mendengarkan org bicara.. ternyata mendengarkan itu tidak sebatas mendengarkan yah.. tapi menyimak, berkonsentrai, dan memahami apa yang disampaikan pembicara…
    oke..oke..
    *angguk2*
    seph..

  2. Muatan isinya dah cukup berbobot, namun untuk lebih hidup & terkesan tidak terlalu serius untuk semua artikel mungkin bisa ditambahi gambar tatu animasi yang berhubungan, bukankah gambar itu mewakili 1000 kata & belajar akan lebih efekti jika dalam keadaan fun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *