Kontroversi Generasi Digital

Dede,bocah kecil yang baru 6 tahun itu dengan tangkas menyalakan laptop dan membuka situs game online kesukaannya. Dia main games dengan serius seperti orang dewasa nonton berita. Matanya nyaris tak berkedip dan penuh konsentrasi. Sesekali dia berteriak kegirangan, terkadang juga mengeluh kesal. Seru sekali. Lama kelamaan dia bosan juga. Akhirnya dia membuka situs youtube dan menonton film kartun Ultraman favoritnya. Asyiknya…
Itulah fenomena yang terjadi di sekitar kita saat ini. Bukan hal yang aneh lagi melihat anak kecil bisa mengakses internet. Mereka juga sudah biasa menggunakan perangkat seluler untuk menelepon atau sms. Bahkan menggunakan aneka gadget modern seperti mp3, camera digital, tablet pc dan semacamnya sudah menjadi keseharian mereka. Sungguh berbeda anak kecil saat ini dengan anak-anak di masa lalu.
Para ahli berpendapat bahwa generasi yang lahir pada tahun 1990an hingga sekarang disebut sebagai generasi digital. Ada juga yang menyebutnya sebagai generasi internet atau generasi Z. Generasi ini mendapat sebutan sebagai generasi digital karena mereka lahir ketika teknologi digital telah ada dan banyak digunakan. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai “children of the web” alias anak-anak internet.
Marc Prensky, seorang ahli pendidikan, membagi manusia menjadi 2, yakni generasi digital immigrant dan digital native. Digital native adalah kelompok yang saat mulai belajar menulis sudah mengenal internet. Sedangkan digital immigrant adalah generasi yang mengenal dunia internet setelah mereka dewasa. Digital Immigrants belajar bagaimana mengoperasikan komputer, membuat dan menggunakan e-mail dan jejaring sosial, namun proses itu berlangsung “terlambat” dibanding Digital Native yang mengenyam teknologi sejak dini.
Anak-anak dan remaja saat ini adalah penduduk asli dunia digital. Sedangkan orangtuanya dan orang dewasa lainnya hanyalah pendatang di dunia maya ini. Penduduk asli dan pendatang tentu memiliki karakteristik yang berbeda. Tentu si penduduk asli lebih menguasai lika-liku dunia digital dibandingkan dengan para pendatang. Pemahaman mereka yang tumbuh di era digital atau digital natives tentang internet menjadikan mereka satu tingkat atau beberapa tingkat lebih tinggi dibanding generasi digital immigrants.
Meskipun begitu, digital natives lebih rentan terhadap pengaruh negatif teknologi terkini. Mereka yang masih berusia muda belum punya filter yang cukup untuk memilah dan memilih mana yang baik dan buruk. Remaja belum punya kematangan emosi dan pikiran sehingga mudah tergoda dan ternoda. Teknologi memudahkan kita menambah pengetahuan dan kebaikan. Tapi teknologi juga bisa memfasilitasi kemaksiatan dan kejahatan.
Ada beberapa kasus remaja putri yang “hilang” setelah berkenalan dengan seseorang melalui facebook. Prostitusi remaja juga menggunakan media sosial sebagai sarana promosi dan menjual diri. Belum lagi perjudian terselubung ataupun terang-terangan.
Penggunaan teknologi tidak bisa dicegah lagi. Begitu banyak manfaat dan kemudahan yang bisa didapatkan dengan menggunakan teknologi digital. Kita tidak mungkin kembali ke era analog apalagi ke zaman batu. Hanya saja orangtua dan guru perlu mengingatkan anak-anaknya untuk tidak tenggelam dalam pusaran arus dunia maya yang berbahaya. Mereka tidak bisa dilarang untuk menggunakan internet atau gadget. Mereka harus diberi pemahaman mana yang baik dan buruk.
Filter terpenting dan paling efektif bukanlah dengan menggunakan software tertentu tapi filter yang berasal dari dalam diri sendiri. Mereka harus diberikan pengetahuan tentang dampak negatif dari pornografi, cyber bullying atau kecanduan games online. Selain itu, mereka juga harus diberikan alternatif kegiatan yang positif dan bermanfaat di dunia nyata. Sehingga waktu mereka tidak dihabiskan di dunia maya. Ayo selamatkan generasi muda…

4 thoughts on “Kontroversi Generasi Digital”

  1. Benar sekali. Dunia maya mempunyai sisi positif dan negatif. Asalkan anak-anak ini masih dalam pengawasan dan bimbingan orang dewasa, tentu akan berbuah manis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *