GOLPUT, PEMENANG PEMILU 2009

Bukan Partai Demokrat seperti hasil survey terakhir yang dilakukan oleh lembaga survey yang akan memenangkan pemilu 2009. Bukan juga PDI Perjuangan. Apalagi Golkar yang perolehan suaranya cenderung terus menurun. Kuda hitam seperti Partai Keadilan Sejahtera pun belum bisa.

Golput menang artinya jumlah suara pemilih yang terdaftar tapi tidak ikut memilih lebih besar daripada jumlah suara partai pemenang pemilu. Bisa juga diartikan tingkat partisipasi masyarakat sangat rendah. Jika melihat track record golput yang cenderung terus meningkat dari waktu ke waktu maka kemungkinan mereka memenangkan pemilu bukanlah hal yang aneh.

Pada pemilu legislatif tahun 2004 jumlah pemilih golput sebesar 15,93%. Sementara pada pemilihan presiden putaran pertama jumlah golput meningkat menjadi 20,24% sedangkan pada putaran kedua jumlahnya menjadi 22,56%. Trend kenaikan persentase pemilih yang memutuskan untuk tidak memilih semakin besar ketika dimulainya era pilkada.

Hasil penelitian Lembaga Survey Indonesia (LSI) yang dimuat dalam kajian bulanan edisi 5 yang diterbitkan September 2007 menyebutkan rata-rata tingkat golput dalam pilkada yang dilaksanakan antara Juni-Juli 2005 sebesar 27,9%. Pilkada yang dijadikan sampel sebanyak 167 pilkada. Pada pilkada yang dilaksanakan pada tahun-tahun berikutnya tingkat partisipasi masyarakat terus menurun.

Pilkada Jawa Barat yang memberikan hasil mengejutkan dengan menangnya Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf dari PKS-PAN ternyata hanya diikuti oleh 67,4% pemilih saja. Hal ini berarti masyarakat yang sudah memilih tapi tidak menyalurkan aspirasinya mencapai 32,6%. Sebelum itu, pilkada Banten juga hanya diikuti oleh 60,83% pemilih berarti jumlah golput mencapai 39,17%. Pilkada Depok warga yang berpartisipasi memilih mencapai 58,01%. Artinya golput di Depok sebesar 41,99%. Bahkan di Bekasi lebih parah lagi tingkat golput mencapai 46,24% karena tingkat partisipasinya hanya mencapai 53,76%.

Apabila dibandingkan dengan pemilu di masa orde baru tentu sangat jauh berbeda. Pada masa kekuasaan presiden Soeharto tersebut tingkat partisipasi pemilih selalu lebih dari 90% kecuali pemilu 1997 yang mencapai 88,9%. Artinya golput pada zaman itu kurang dari 10% saja. Tentu kondisi pada saat itu sangat berbeda dengan sekarang ini.

 

Mengapa golput akan bertambah pada pemilu 2009?

Jumlah peserta pemilu 2009 sebanyak 34 parpol menjadikan persaingan semakin ketat. Rakyat akan kebingungan dengan banyaknya partai. Hal ini bisa merugikan karena kemungkinan semakin rendahnya tingkat partisipasi publik dalam pemilu akan semakin besar. Mereka beranggapan banyaknya partai politik tidak membawa perubahan yang siginifikan terhadap kehidupan mereka.

Selain faktor terlalu banyaknya parpol, rakyat akan merasa jenuh dengan terlalu banyaknya pemilihan yang harus mereka lakukan. Hingar bingar pemilihan bupati/walikota atau pilkada gubernur cukup menyita waktu dan tenaga mereka. Apalagi jika jaraknya berdekatan dengan pemilu 2009 maka kemungkinan untuk menjadi golput akan semakin besar.

Faktor lain yang harus diperhatikan adalah aturan baru dalam pemilu 2009 yang mengatur jadwal kampanye terbatas bisa dilakukan jauh hari sebelum pencoblosan. Kampanye di ruang tertutup sudah bisa dimulai 14 Juli 2008 ini. Waktu yang tersedia sangat panjang mencapai sembilan bulan lebih. Rakyat yang masih dibebani dengan kesulitan penghidupan akan merasa diberikan janji-janji manis tanpa realisasi.

Jika tidak direncanakan dan dikelola dengan baik oleh masing-masing partai, kampanye dalam jangka waktu lama ini bisa menjadi bumerang bagi mereka. Masyarakat yang tidak mau diberi angin surga akan meminta bukti nyata. Bisa jadi parpol akan ”diperas” oleh rakyat untuk memberikan apa yang mereka butuhkan dari sekedar sembako, uang makan, kaos, modal kerja atau bentuk materi yang lain.

Padahal mereka belum tentu mau memilih partainya. Sebagian masyarakat berfikir “cerdas” dengan semboyan “ambil saja uangnya jangan pilih partainya”. Apabila semboyan ini diterapkan kepada semua partai maka mereka akan mendapatkan banyak materi dari banyak partai. Sementara partai politik akan kehabisan bahan bakar sebelum mencapai tujuan jika tidak bisa mengatur kampanye jangka panjang ini.

            Setelah 10 tahun reformasi -yang salah satu tandanya adalah semakin banyaknya partai yang bermunculan seperti jamur di musim hujan- tidak ada perubahan yang signifikan. Partai datang silih berganti, calon presiden berderet mengantri. Sementara rakyat hanya mendapat janji yang tak pasti.

 

Peringatan untuk partai politik

            Trend meningkatnya keengganan masyarakat berpartisipasi dalam politik yang diwujudkan dalam pemilu memberikan indikasi kuat ketidakpercayaan mereka kepada partai politik. Hal ini perlu jadi perhatian serius bagi semua pihak. Ketidakpercayaan kepada partai politik sebagai wahana aspirasi dalam demokrasi menunjukkan kegagalan parpol memperjuangkan kepentingan masyarakat.

            Ketidakpercayaan ini akan berakibat semakin apatisnya masyarakat terhadap permasalahan bangsa. Mereka akan semakin tidak peduli dengan apa yang terjadi karena mereka sibuk memikirkan kesulitan hidupnya sendiri. Elit partai harus memberikan solusi bukan ribut sendiri mencari kursi.

            Partai politik harus menjalankan tugasnya sebagai instrumen demokrasi dengan memberikan pendidikan politik yang benar kepada rakyat. Jangan terus membiarkan rakyat bodoh -dalam segala hal- agar bisa mengambil keuntungan dari kebodohan mereka. Pendidikan politik inilah yang masih sangat kurang dilakukan oleh partai politik.

            Selain itu, peran pemerintah dan KPU dalam administrasi pemilu harus ditingkatkan. Salah satu alasan rendahnya partisipasi masyarakat adalah karena hambatan administrasi. Banyak diantara mereka tidak tercatat dalam daftar pemilih sehingga tidak mungkin untuk menggunakan hak pilih mereka.

3 thoughts on “GOLPUT, PEMENANG PEMILU 2009”

  1. Semoga Demokrasi cepat hancur, dan pemilu kemarin adalah yang terahir bagi umat Islam di Indonesia. Amin

  2. Luar biasa, ternyata golput berkuasa………berarti parlemen dan presidennya harus dari tokoh golput yo
    yo…….

    1. tulisan saya dibuat jauh sebelum pelaksanaan pemilu. Bisa jadi ini akan jadi trend dalam pemilu di Indonesia selanjutnya, suara golput lebih banyak dari partai yang menang. Ini menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap politik Indonesia makin lemah…untuk itu perlu adanya perubahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *