Dari Anak-Anak Menjadi Remaja (2)

Tulisan sebelumnya sudah membahas 2 perubahan yang dialami anak-anak untuk menjadi remaja yaitu perubahan fisik dan biologis. Kedua perubahan tersebut akan tampak secara kasat mata dan mudah dideteksi. Jadi orangtua dan orang-orang terdekat bisa mengetahui seorang anak telah berubah menjadi remaja.
Masih ada 2 perubahan lagi yang dialami anak-anak untuk menjadi remaja yaitu:
1. Perubahan Psikologis
Bentuk perubahan berikutnya adalah perubahan dari sisi kejiwaan atau psikologis. Perubahan ini tidak selalu nampak di permukaan, terkadang tidak disadari oleh orang-orang di sekitar. Ada beberapa indikasi perubahan psikologis yang dialami seorang remaja yaitu; mulai lebih memperhatikan penampilan, ikut trend mode, ketertarikan kepada lawan jenis, tidak mau diperlakukan seperti anak-anak lagi, mencari identitas diri, dan sebagainya.
Galau, itulah dampak dari perubahan kejiwaan yang terjadi. Mereka sering merasa resah dan gelisah. Lebih baik jika rasa yang ada di dalam dada itu dicurahkan lewat curhat. Ada yang curhat sendirian dengan menulis di buku diari atau bikin puisi. Ada juga yang curhatnya online di facebook atau twitter. Sebagian lagi curhatnya dengan lawan jenis alias pacaran.
Rasa galau itu memang harus disalurkan melalui cara, orang dan tempat yang tepat. Curhat di diari atau puisi minim resiko. Facebook atau twitter adalah media publik, siapa saja bisa melihat apa yang dituliskan. Resikonya isi curhat bisa menyebar ke seluruh dunia. Kalo pacaran, resikonya sangat tinggi karena tidak cuma bicara isi hati. Pacaran pasti terasa basi tanpa cipika-cipiki. Kalo sudah begitu, nafsu yang akan ikut berbicara. Sex bebas, hamil di luar nikah atau aborsi akan menjadi kelanjutan ceritanya.
Lebih baik kalau orangtua, kakak, saudara, guru atau orang dewasa lain yang dipercaya sebagai tempat curhat. Mereka bisa memberikan solusi, mengarahkan atau minimal menjadi pendengar setia. Sayangnya figur yang dibutuhkan remaja untuk menjadi teman curhat tak mudah ditemukan. Orangtuanya kadang terlalu sibuk bekerja, gurunya tak mau diganggu, saudara atau keluarga pun tak ada yang bersedia.
2. Perubahan Sosial
Seorang remaja sudah tidak mau lagi ikut orangtuanya kondangan atau acara keluarga. Mereka lebih senang bertemu dengan teman-temannya. Jalan bareng ke mall atau sekedar kumpul-kumpul di rumah. Masa remaja adalah saatnya bersosialisasi dengan sesama. Saling mengenal, berteman, bersahabat, berbagi suka dan duka.
Biasanya remaja akan punya kelompok (gank) sendiri. Mereka sangat akrab dan sering kumpul bersama. Jika aktifitas gank ini positif, tentu akan membawa dampak baik bagi anggotanya. Tapi sayangnya, ada juga gank remaja yang suka kekerasan, vandalisme, mabuk-mabukan bahkan mengunakan narkoba.
Remaja harus memilih untuk bergaul dengan siapa. Tidak semua orang bisa dijadikan teman. Pilihlah teman yang bisa menjadikan diri kita lebih baik. Bergabunglah dengan gank yang berisi orang-orang yang ingin maju dan sukses. Teman akan menjadi salah satu faktor pendukung kesuksesan atau menjerumuskan ke jurang kegagalan.
Baca tulisan sebelumnya di sini http://akhmadfarhan.wordpress.com/2012/01/21/dari-anak-anak-menjadi-remaja-1/

2 thoughts on “Dari Anak-Anak Menjadi Remaja (2)”

  1. dewasa ini banyak anak-anak yang terlalu cepat menginjak waktu dewasa, sehingga semua kebutuhan dimasa anak-anaknya belum begitu terpenuhi, akibatnya banyak terjadi penyimpangan penyimpang dikalangan remaja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *