Ciri-ciri Remaja Di Era Digital (1)

kalo qmu ingin duku ambillah d’kebunku kalo qmu cnta pdaku bilanglah 1 kta I LOVE YOU. Itu adalah salah satu contoh pantun khas remaja sekarang. Kreatif dan menarik dengan cara menulis khas bahasa alay. Entah kapan dimulainya dan siapa yang menemukan bahasa remaja sekarang ini. Dunia remaja memang sangat dinamis dan terus berkembang dengan cepat.
Remaja memang selalu ingin tampil beda. Masa remaja adalah saat peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Mereka sedang mencari identitas diri, mau jadi seperti apa nanti. Oleh karena itu, mereka tidak mau tampil dan bertingkah laku seperti anak-anak lagi. Tapi juga mereka belum dewasa dan memang tidak mau berpenampilan seperti orang dewasa. Remaja punya ciri sendiri.
Apalagi di era digital ini informasi begitu mudah dicari. Perkembangan mode, teknologi, berita terkini sangat cepat diterima di seluruh belahan penjuru dunia. Ada beberapa ciri remaja di era digital, namun di tulisan ini hanya akan dibahas satu saja yaitu eksistensi. Mereka sangat peduli tentang eksistensinya di dunia (maya). Ngeksis. Itu bahasa gaulnya. Keberadaan mereka di dunia maya harus terlihat nyata dan diakui oleh lingkungan sekitarnya. Hal ini sebenarnya sama dengan di dunia nyata.
Para remaja ingin keberadaan mereka diakui oleh lingkungannya. Gue ada di sini loh. Kira2 begitu. Akhirnya mereka melakukan apapun untuk sekedar diakui. Dari mulai penampilan yang ikut-ikutan selebritis atau trend mode terkini biar gak dibilang ketinggalan zaman, aksesoris dan gadget model terbaru selalu ada di tangan.
Kebutuhan akan eksistensi diri ini sangat tinggi di kalangan remaja karena mereka sedang dalam masa pencarian identitas diri. Mereka ingin menunjukkan kepada dunia siapa sebenarnya diri mereka. Kecenderungan mereka untuk tidak mau lagi diatur sama orangtua dan ingin menentukan segalanya sendiri.
Di dunia nyata cara menunjukkan eksistensi diri dilakukan dengan cara yang biasa maupun “luar biasa”. Cara yang biasa dilakukan dengan menunjukkan prestasi (agak jarang yg seperti ini), tampil beda, atau bertingkah untuk menarik perhatian.
Cara yang luar biasa dilakukan jika mereka kurang perhatian dan kasih sayang dari orang tua atau lingkungannya. Ada yang menjadikan tawuran sebagai rutinitas mingguan, corat-coret tembok, mabok-mabokan sampai mencoba narkoba. Kenakalan remaja hanyalah dampak dari keinginan mereka untuk eksis di lingkungannya. Hanya sayang lingkungan yang mereka pilih bukan tempat yang tepat untuk mengembangkan diri.
Di dunia maya, remaja menunjukkan eksistensinya. Bahkan di Indonesia pengguna internet hingga akhir tahun 2011 sudah mencapai 48 juta orang sebagian besarnya adalah generasi muda. Pertumbuhan pengguna internet sangat cepat didominasi oleh mereka yang berusia 15-30 tahun. Hal ini berdasarkan survei Markplus Insight bulan Agustus-September 2011 di 11 kota besar.
Remaja sangat aktif di media sosial seperti facebook dan twitter. Mereka menunjukkan eksistensinya di media sosial dengan memiliki teman atau follower yang banyak. Status mereka selalu diupdate sesering mungkin. Lebih sering dari jadwal minum obat dalam sehari. Bahkan ada yang bilang setiap kali menghembuskan nafas, mereka akan mengupdate statusnya. Lebay banget yah. Tapi kenyataannya hampir mendekati itu.
Apapun yang mereka lihat, dengar dan rasakan di dunia nyata bisa langsung diupdate ke dunia maya. Terkadang apa yang mereka tulis atau foto dan video yang diupload tidak mereka pikirkan lagi dampaknya. Padahal tulisan mereka bisa menyinggung perasaan orang lain. Foto atau video yang tak pantas bisa tersebar luas. Akhirnya bisa menjadi masalah. Kasus remaja yang diberhentikan dari sekolah karena berkomentar negatif tentang guru dan sekolahnya sudah beberapa kali terjadi. Begitu juga dengan foto atau video porno para ABG.
Tidak semuanya negatif, banyak remaja yang eksis dengan berkarya di dunia maya. Mereka yang rajin menulis membuat blog dan akhirnya menjadi buku. Ada juga yang pinter bikin software atau program aplikasi. Bagi mereka dunia maya bisa menjadi ajang unjuk gigi dan meraih prestasi.
Entah mana yang lebih banyak, remaja yang bisa memanfaatkan era digital untuk mengembangkan potensi diri atau remaja yang tersesat dan menjadi “korban”. Menurut anda bagaimana?
Baca lanjutannya di sini http://akhmadfarhan.wordpress.com/2012/01/19/ciri-ciri-remaja-di-era-digital-2/

8 thoughts on “Ciri-ciri Remaja Di Era Digital (1)”

  1. saya masih remaja nggak ya? *sembunyiin KTP
    waktu saya masih jadi remaja, saya nggak begitu gaul dan eksis sih, saya malah lebih suka tenggelam bersama buku tulis untuk menuliskan cerita apa saja di sana… sekarang, saya tenggelam dalam blog deh jadinya 😀

    1. masih mending tenggelam dalam blog daripada remaja yg lain tenggelamnya di sungai. he..he..tanggal lahir gak bisa dirubah tapi jiwa muda harus tetap ada. setuju nggak?
      Ada yg lebih eksis di dunia maya daripada di dunia nyata. that’s ok, asalkan kewajiban di dunia nyatanya tetap dijalankan. keep blogging, sis..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *