Belajar Dari Tutupnya Gerai Giant

Berita akan tutupnya enam gerai Giant tentu bukan kabar gembira untuk para karyawan yang menggantungkan hidupnya di sana. Begitu juga dengan pihak terkait yang akan ikut merasakan imbasnya seperti pedagang makanan di sekitar gerai yang biasanya ikut meraup keuntungan. Termasuk di dalamnya juga pemerintah karena akan menambah jumlah pengangguran.

Penutupan gerai ritel ini bukan hal baru karena pada tahun-tahun sebelumnya juga sudah terjadi. Giant yang berinduk ke PT Hero Supermarket (Tbk) memiliki 125 swalayan. Januari lalu korporasi ini juga menutup 26 swalayan yang bermerek Hero. Penutupan juga terjadi dengan gerai ritel yang lain seperti Seven Eleven, Debenhams, Lotus, Ramayana, Matahari dan lain sebagainya. Apa yang menyebabkan gerai ritel khususnya Giant ini tutup? Apakah ada hubungannya dengan semakin maraknya penjualan online? atau memang daya beli masyarakat yang menurun?

Penutupan gerai Giant menarik untuk dibahas dan dikaji lebih lanjut agar bisa menjadi pelajaran bagi para pelaku bisnis lainnya. Penyebab tutupnya gerai ritel Giant bukan karena satu faktor tapi multi faktor diantaranya yaitu:

a. Persaingan

Faktor utama tutupnya Giant adalah karena kalah saing dengan gerai ritel yang lain. Ritel besar sekelas Giant pangsa pasarnya digerogoti di bawah oleh minimarket seperti Indomaret dan Alfamart. Untuk kebutuhan sehari-hari konsumen tidak perlu pergi jauh ke gerai ritel besar, mereka hanya perlu berjalan kaki sebentar ke minimarket. Apalagi Indomaret dan Alfamart juga menerapkan strategi promosi yang dilakukan ritel besar yaitu dengan memberikan diskon cukup besar untuk barang tertentu. Misalnya minyak goreng, minuman, snack dan lain sebagainya.

Sebelumnya konsumen sering belanja bulanan atau mingguan ke ritel besar sekaligus “jalan-jalan”. Kini untuk menghemat pengeluaran mereka cukup belanja di minimarket yang dekat saja dengan harga yang bersaing dan tentu saja menghemat biaya transportasi serta mengurangi biaya lain seperti makan minum. Hal ini tentu mengurangi konsumen ritel besar.

Persaingan yang “head to head” adalah dengan sesama ritel besar. Giant bersaing langsung dengan ritel besar lain seperti Carrefour dan lain sebagainya. Tentu saja persaingan ini sangat ketat karena barang-barang yang mereka jual sama. Mereka akan bersaing ketat dalam hal harga, pelayanan, kenyamanan, fasilitas, lokasi dan lain-lain.

b. Perubahan perilaku konsumen

Konsumen zaman now tidak sama seperti konsumen zaman dulu. Sebagian besar mereka sekarang sudah beralih berbelanja online. Mereka lebih suka belanja online karena lebih praktis, mudah dan murah. Produk fashion, makanan, elektronik bahkan furnitur sekarang lebih mudah dibeli secara daring tanpa perlu harus keluar rumah.

Hal ini tentu mengurangi jumlah konsumen yang berbelanja langsung di toko ritel besar. Semakin sedikit konsumen yang mau meluangkan waktu untuk keluar rumah dan belanja bersama keluarga. Mereka lebih memilih berbelanja melalui gadget dan waktu belanjanya bisa digunakan untuk hal lain.

c. Lokasi dan target pasar yang tidak tepat

Gerai ritel modern sekarang tidak hanya ada di kota besar saja tapi sudah masuk ke daerah. Biasanya gerai ritel besar ada di dalam mall atau lokasi strategis di pusat kota. Kini mereka berekspansi ke perumahan dan jalan raya di wilayah kabupaten. Sebagian pendirian cabang baru ini berhasil dan omset penjualannya sesuai dengan harapan.

Namun ada juga pembukaan gerai ritel ini yang gagal karena lokasinya tidak tepat. Terkadang lokasinya terlalu dekat dengan ritel pesaing dan pasar tradisional. Ada juga gerai ritel yang berdiri bukan di daerah target pasar yang menjadi sasaran. Ritel modern seperti Giant lebih sesuai untuk konsumen kelas menengah ke atas. Sedangkan konsumen kelas menengah ke bawah akan memilih belanja di minimarket atau pasar tradisional karena mereka sensitif terhadap harga.

Itulah berbagai penyebab tutupnya gerai ritel Giant yang bisa menjadi pelajaran kita semua. Persaingan bisnis tidak bisa dihindari untuk itu kita harus punya keunggulan kompetitif dibandingan dengan pesaing. Perilaku konsumen yang berubah harus diantisipasi, produk yang dijual dan cara menjualnya harus disesuaikan dengan zaman. Ekspansi bisnis harus dipertimbangkan dengan matang agar tidak merugikan.

Semoga bermanfaat…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *